pikiransuper.co.id - Di tengah lautan drama digital yang sering kali menenggelamkan substansi, polemik antara Ferry Irwandi dan Gusti Ayu Dewi mengenai isu orang hilang menjadi sebuah studi kasus yang nyaris sempurna. Perdebatan sengit soal kata "dihilangkan" dengan cepat berevolusi menjadi arena pertarungan ego, menguras energi publik dan meminggirkan esensi tragedi kemanusiaan yang menjadi pemicunya.
Lalu, di tengah kebisingan itu, Coki Pardede muncul bukan untuk berpihak, melainkan untuk menyuntikkan dosis logika yang brutal dan diperlukan.
Fakta yang Menampar
Komentar Coki Pardede, yang diunggah sekitar 20 September 2025, tidak berbasa-basi. Ia langsung menunjuk pada keanehan situasi yang justru menjadi bahan bakar perdebatan. Dengan gaya khasnya, ia membingkai betapa anehnya fokus publik saat itu.
"Menurut gue secara pribadi, absurd banget ada orang hilang di Kwitang, terus tiba-tiba dia ditemuin lagi entrepreneur barongsai di daerah Malang," ujar Coki.
Pernyataan ini lebih dari sekadar observasi jenaka. Dengan menggunakan kata "absurd", Coki secara telak melucuti keseriusan palsu dari perdebatan yang sedang berlangsung. Ia menunjukkan bahwa publik sedang disibukkan oleh sebuah plot twist aneh dalam sebuah "sinetron", sementara tragedi yang sesungguhnya—nasib para korban yang belum ditemukan—terabaikan.
Menolak Drama, Menagih Fokus
Setelah membeberkan absurditasnya, Coki langsung menusuk ke jantung persoalan: hilangnya fokus. Ia tidak terjebak dalam perang semantik "hilang" atau "dihilangkan". Baginya, debat itu adalah distraksi massal. Ia kemudian melontarkan pertanyaan retoris yang menjadi inti dari seluruh kritiknya:
"Maksud gue, kenapa fokus kita nggak ke dua orang ini aja, daripada debat-debat yang nggak jelas gitu."
Kutipan ini adalah jangkar dari seluruh opininya. Dua orang yang ia maksud, Muhammad Farhan Hamid dan Reno Syahputradewo, seketika kembali menjadi subjek utama, bukan lagi objek dalam drama orang lain. Coki secara efektif mengatakan bahwa engagement digital, kemenangan argumen, dan pembelaan idola tidak ada artinya jika tujuan utamanya—menemukan orang hilang—ditinggalkan. "Debat-debat yang nggak jelas" adalah frasa pedas yang ia gunakan untuk melabeli seluruh kebisingan performatif yang terjadi.
Peran Tak Terduga Sang Komika
Dengan dua kutipan sederhana itu, Coki Pardede mengambil peran yang tak terduga sebagai kompas moral. Ia tidak perlu menggunakan analisis akademis yang rumit atau jargon aktivisme yang tinggi. Ia hanya menggunakan logika dasar yang dipahami semua orang: ada masalah nyata (dua orang belum ditemukan) dan ada gangguan (debat kusir). Pilih mana yang lebih penting.
Intervensinya menjadi pengingat keras bahwa dalam setiap isu kemanusiaan, korban bukanlah sekadar data atau pion dalam sebuah argumen. Mereka adalah fokusnya. Coki, dengan gayanya yang lugas, berhasil menarik rem darurat pada kereta debat yang melaju kencang, dan mengingatkan semua penumpangnya ke mana seharusnya tujuan perjalanan ini.

Tulis Komentar